Sebelumnya aku mau menegaskan bahwa tulisan ini sangat murni subyektif dari sudut pandangku sendiri. Jadi, seperti yang kita tahu bahwa dari sudut pandang subyektifitas, dalam beropini tidak ada benar atau salah, karena subyektifitas adalah segalanya. Walaupun tetap ada konsekuensi mutlak dibaliknya.
Oke, lanjut bleeeh...
Punk/hardcore hari ini tak ubahnya sekumpulan orang penggemar musik non-mainstream(?) atau boleh dibilang sedikit cadas, tanpa ada pengaplikasian dalam pemikiran dan kehidupan sehari-harinya. Pendapat seperti itu sering terlontar dibenak beberapa orang bahkan mungkin kamu.
Menurutku ada benarnya juga pendapat tersebut. Walau mungkin pedapat tersebut hanya berlaku pada sebagian orang saja (atau sebagian besar..hehe). Aku pribadi bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa di dalam scene. Bukan pula seorang ’aktivis’ tongkrongan dalam scene punk/hardcore. Mungkin dulu memang aku ’hang out’ bersama teman-teman di komunitas Tapi aku menolak untuk disebut sebagai ’aktivis’ tongkrongan karena memang intensitasku sangat minim. Mungkin karena disebabkan masalah waktu saja. Tapi dengan begitu, justru aku bisa memposisikan diriku sebagai orang yang melihat kondisi scene dari sudut pandang yang lain.
Sangat disayangkan memang, jika kita lebih berkutat dengan masalah musik dan fashion semata. Tanpa ada suatu ’rebel’ dalam pengaplikasian di kehidupan sehari-hari. Mungkin sudah terlalu klise kita membicarakan masalah rebellion pada saat ini. Tapi menurutku, justru itulah inti dari sub-kultur ini. Tidak terbatas pada masalah musik dan lirik semata, apalagi fashion.
Oke lah... Memang dalam bermusik kita bisa dibilang sangat rebel. Sangat berbeda dengan selera orang kebanyakan. Tapi apakah hidup ini hanya sebatas musik dan lirik semata? Kita sangat hobi meneriakkan semangat brotherhood, anti ini, anti itu, fuck ini, fuck itu, tapi apakah rebel kita hanya sebatas itu? Hanya terbatas pada apa yang kita nyanyikan? Bahkan kalau boleh berpendapat, kita bisa sangat rebel tanpa lirik-lirik garang. Kita bisa sangat rebel walau kita menyanyikan lagu cengeng. Benarkah? Ya! Karena ada suatu media yang bisa kita gunakan sebagai media rebellion.Yaitu hidup kita sehari-hari.
Apakah rebel yang dari tadi aku maksud itu lantas anti ini, anti itu, lawan ini, lawan itu?? Tidak bro! Mungkin sedikit terinspirasi pendapat beberapa orang yang cukup cerdas membahas masalah rebel 4 life. Bahwa rebel itu tidak lantas asal-asalan lawan ini, lawan itu, anti ini, anti itu. Tidak asal ikut-ikutan. Karena suatu rebel yang akan kita lakukan itu hanya kita yang tahu pasti. Mungkin bagi orang lain hal tersebut bukanlah suatu rebellion, tapi bagi kita itu sangat rebel. Atau sebaliknya, mungkin bagi kita hal tersebut tidak rebel, sedangkan bagi orang lain hal tersebut adalah bentuk rebel dia.
Jadi rebel yang kumaksud bukanlah rebel tolol yang asal ingin tampil beda semata. Tapi suatu rebel yang kita pribadi mempunyai dan memahami alasan untuk melakukannya. Subyektifitas sangat berperan di dalamnya. Ya... Aku ambil contoh, mungkin kamu merasa politik praktis adalah media yang cocok bagimu untuk melawan kondisi politik yang itu-itu saja, ya silahkan rebel dengan media politik. Atau misal kamu merasa bahwa rokok adalah suatu hal yang sangat memuakkan, ya silahkan melakukan suatu rebel dalam kehidupanmu untuk tidak menggunakan rokok seperti yang lain bahkan mungkin bergabung dengan organisasi anti-rokok... Atau misal lagi kamu merasa bahwa agama adalah kebohongan publik semata, ya silakan menjadi atheis atau agnostic sebagai bentuk rebel-mu. Atau sebaliknya, mungkin kamu merasa bahwa atheis hanyalah bagi orang-orang tolol, ya silakan ber-rebel dengan menjadi umat beragama yang baik. Atau mungkin kamu merasa animal-exploitation semakin parah, ya silakan rebel dengan menjadi aktivis animal-rights. Bahkan kamu bisa menjadi sangat rebel dalam hal positif ketika kebanyakan orang dengan enaknya membuang sampah sembarangan, tapi kamu melawan itu semua dengan tidak menjadi seperti mereka, dengan mendisiplinkan dirimu untuk membuang sampah pada tempatnya.... Jadi sekali lagi, mungkin kita sendiri yang paham mengenai rebel yang kita lakukan. Tapi tentunya dalam batas sebuah rebel yang cerdas, bertanggungjawab dan tidak merugikan orang lain.
Sudah saatnya, kita tidak hanya berkutat masalah musik, lirik dan fashion. Musik dan lirik bahkan fashion, itu hanya salah satu media kita dalam mengekspresikan rebel kita. Menjadi seorang punk/hardcore itu saja sudah menjadi suatu rebel yang positif. Positif di sini tidak dalam konteks straight edge atau positive youth, tapi dalam konteks yang lebih luas. Sayangnya, hal positif itu tidak akan berarti apa-apa jika hanya menjadi slogan yang kita teriakkan dan nyanyikan semata.
----------------------------------------------------------------------------------
Kamu merasa tulisan di atas terkesan menggurui, sok tahu, sok paham, sok rebel dan sok-sok lainnya? Terserah.... Yang jelas bukan itu maksudku menulis artikel di atas. Aku hanya ingin beropini saja :D
Saturday, 13 September 2008
Punk dan Hardcore Hari Ini (Part 2)
Thursday, 28 August 2008
Tuhan Sembilan Senti
Oleh Taufiq Ismail
Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.
Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.
Friday, 20 June 2008
DRUGS DEALERS MUST DIE!!!
Maaf kalau judulnya terkesan kasar. Tapi apa yang diperbuat drug dealer lebih kasar dan kejam bagi banyak orang. Tentunya yang dimaksud disini adalah drug dealer yang menjual obat-obat terlarang yang sangat rentan penyalahgunaannya. Kalau banyak orang biasa bilang bandar, BD atau sebutan lainnya.
Seperti sebuah deret ukur, jumlah pemakai narkoba di Indonesia kian hari kian meningkat. Korban terus berjatuhan. Menurut hasil penelitian dari Lembaga Pranata Universitas Indonesia dan Badan Narkotika Nasional (BNN) selama tahun 2003, pemakai obat terlarang sudah mencapai sekitar enam juta orang, atau hampir mencapai 3 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, 1,3 juta di antaranya berada di Jakarta, sementara kota-kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Bali, rata-rata di bawah satu juta orang.(http://www.suarapembaruan.com)
Banyak yang bilang hubungan penjual dan pembeli itu semacam hubungan ayam dan telor. Mana yang lebih dulu ada? Tentu banyak orang bingung. Mana yang lebih dulu ada, bandar atau pengguna? Tergantung. Tapi dalam kasus narkoba ini, peran penjual jauh lebih besar dalam membantu penyebaran barang-barang tersebut. Mengapa yang harus lebih diutamakan adalah membasmi penjualnya tapi bukan membasmi konsumennya? Jawabnya adalah karena hal itu lebih efektif. Ya! Umpamakan di dunia ini tidak ada penjual narkoba, tentu tidak akan ada yang mengkonsumsinya walaupun jutaan orang mencarinya. Tapi andaikata kondisinya di balik, seumpama di dunia ini tidak ada pengguna narkoba tapi terdapat satu saja penjual narkoba, jelas mau tidak mau penjual itu akan berupaya dengan segala cara agar mendapatkan konsumen sebanyak mungkin. Karena itu lah membasmi bandar narkoba lebih efektif dibanding membasmi satu persatu pengguna narkoba. Itu disebabkan lagi karena jumlah penjual narkoba pasti lebih sedikit dari penggunanya. Ibaratkan 1 penjual mempunyai pelanggan 10 orang, dengan membasmi penjual yang jumlahnya satu tersebut lebih mudah dibanding membasmi penggunanya yang sepuluh orang tersebut. Dengan melenyapkan 1 penjual cukup membuat 10 pelanggan kelimpungan untuk mendapatkan barang-barang tersebut.
Itu lah mengapa judul artikel ini "DRUG DEALER MUST DIE!!!" bukan "DRUG USER MUST DIE!!!"
Sebagian besar pengguna narkoba mulai menggunakan obat-obat tersebut karena dijebak kawannya, dipengaruhi lingkungan, jiwa yang tidak stabil, masalah keluarga dan lain-lainnya yang pada akhirnya menyebabkan terjerat dalam jaring-jaring narkoba. Tapi, penjual narkoba jelas-jelas dengan sadar dan segala upaya mencoba memasarkan barang-barang tersebut hanya dengan satu alasan: UANG! Mereka tidak akan peduli akan kenyataan bahwa pelanggannya semakin mirip mayat hidup yang terkucil dari pergaulan karena dia seorang pengguna.
Terkadang masalah narkoba ini bertentangan dengan konsep kebebasan dan hak asasi manusia. Sebagian orang menganggap menggunakan narkoba adalah suatu kebebasan. Selama tidak mengganggu orang lain ya tidak masalah. Tapi mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya perbuatan mereka menggunakan narkoba itu sudah merugikan baik dirinya sendiri maupun orang lain. Karyawan yang menggunakan narkoba tidak mampu bekerja maksimal, jelas itu akan merugikan tempat dimana ia bekerja. Ibu yang menggunakan narkoba terkadang membuatnya enggan mengurus rumah tangga, itu jelas merugikan keluarganya. Orang yang menggunakan narkoba terkadang terjerat utang untuk memuaskan keinginannya membeli narkoba dan itu sering membuatnya menjadi seorang pencuri, jelas itu akan merugikan orang disekitarnya. Itu hanya sebagian contoh kecil dari penggunaan narkoba. Jadi, sudah saatnya menghilangkan pendapat bahwa menggunakan narkoba adalah kebebasan pribadi yang tidak merugikan orang lain.
Tidak ada kata terlambat untuk memerangi penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Lakukan langkah-langkah nyata yang walau terlihat sepele namun berarti, misal:
- Menyebarkan informasi tentang bahaya narkoba, baik hanya melalui obrolan di kantin kampus maupun melalui seminar.
- Jangan jauhi pengguna narkoba (tapi juga jangan terpengaruh untuk menjadi pengguna:p). Karena terkadang mereka sebenarnya ingin sembuh, tapi belum mampu. Diperparah kondisi lingkungan yang mengucilkannya, akan membuat mereka semakin terperosok. Akan lebih baik apabila kita bisa mengajaknya untuk berkegiatan positif atau bahkan membantu menyembuhkan ketergantungannya.
- Mulailah dengan teriakan : "DRUG DEALER MUST DIE!!!"
drugXfreeXyouth
Saturday, 7 June 2008
FPI = Front Pembela Islam atau Front Perusak Islam???

Lagi-lagi FPI berulah. Minggu 1 Juni 2008 mereka membabi buta menyerang anggota AKKBB yang sedang merayakan kelahiran Pancasila. Hingga tulisan ini aku posting, banyak sekali versi cerita dibelakang kejadian tersebut. Ada yang berkata pihak AKKBB yang memulai memprovokasi dengan ejekan kepada FPI, ada yang berkata FPI yang memulai, ada pula yang berkata karena kesalahan tempat pengumpulan massa AKKBB. Entah mana yang benar. Yang jelas, kejadian ini sudah kesekian kalinya FPI melakukan tindakan main hakim sendiri. Seolah mereka "polisi swasta" sekaligus "hakim" yang berhak setiap saat melakukan pemvonis-an secara sepihak.
Di luar masalah ahmadiyah yang tidak jelas ini, FPI sudah melakukan sekian aksi "superior"nya mulai dari pengrusakan tempat hiburan hingga penyerangan terhadap demonstran. Dan sayangnya, sebagian besar kasus-kasus itu tidak ditindaklanjuti secara tegas oleh pemerintah. Apakah memang benar ada kongkalikong antara FPI dan pemerintah? Entah lah...
Walaupun aku bukan seorang muslim yang pandai masalah agama, tapi aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan semacam itu. Apalagi perbedaan-perbedaan yang ada itu masih bisa didialogkan. Sayangnya, sang malaikat penghacur alias FPI, dengan garangnya membawa pentungan dan berbagai alat lalu membabi buta bertindak brutal sembari meneriakkan Allahu Akbar....Seolah-olah perbuatan mereka tersebut sudah direstui oleh Allah.
Dengan membawa nama FRONT PEMBELA ISLAM, mereka merasa sudah melindungi Islam dari berbagai serangan dan gangguan. Hmmm...Tapi setelah melihat aksi mereka selama ini, kok aku jadi bingung. Sebenarnya siapa yang sesungguhnya merusak Islam? Bukankah tindakan mereka justru membuat Islam semakin dicap sebagai agama kekerasan. Padahal sebenarnya TIDAK!
Oleh karena itu, patut dipertanyakan lagi kepanjangan dari FPI. Apakah Front Pembela Islam atau Front Perusak Islam???
Perlu dipertanyakan pula apakah FPI masih perlu dipertahankan keberadaannya???
Tuesday, 3 June 2008
PRINSIP + PARANG = FASIS
Ketika pertama mendengar kata fasisme, yang terbayang di pikiran kita adalah Mussolini dan Hitler. Yup! Tidak dapat dipungkiri bahwa popularitas fasisme dipupuk oleh keberadaan mereka.
Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara. Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah. Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah(http://id.wikipedia.org).
Tapi benarkah fasisme hanya berkutat pada seputar kecintaan berlebihan terhadap negara atau pemerintahan? Tidakkah kita sadar bahwa banyak sekali fasisme dalam bentuk lain di sekitar kita yang bersembunyi dibalik topeng yang beraneka ragam. Termasuk di dalam suatu golongan.
Golongan??! Yup!
Bukankah bisa kita lihat di sekitar kita betapa banyak golongan yang dengan prinsipnya masing-masing saling memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan terhadap golongan lain yang mungkin tidak sependapat dengan prinsipnya? Mereka merasa paling benar. Entah golongan itu berupa partai politik, kaum penganut ideologi tertentu atau bahkan AGAMA! Walau tidak semuanya seperti itu.
Tanpa sadar, kecintaan dan kepercayaan mereka terhadap prinsip yang mereka pegang telah menjadi sebuah janin yang akhirnya akan melahirkan bibit-bibit fasis dalam bentuk lain bahkan rasis. Tanpa sadar ketika mereka berusaha memaksakan prinsipnya dengan kekerasan kepada orang lain itu saja sudah cukup untuk melahirkan sebuah sikap fasis. Sebuah sikap yang tidak menghargai perbedaan.
Sudah berapa banyak orang yang menjadi korban fasisme dalam jenis tersebut? Tidak terhitung jumlahnya, sobat! Coba hitung saja korban keganasan kaum puritan hingga korban Zionisme keparat. Korban dari kepicikan Noe-Nazi hingga kebodohan supporter klub sepakbola fanatik sempit. Korban dari keparanoid-an George Bush hingga korban kaum straight edge gadungan yang mengaku sebagai ”hardline” tanpa dia paham apa itu definisi ”hardline” sesungguhnya.. Dan masih banyak lagi...
Sudah saatnya kita menghargai perbedaan. Hidup berdampingan tanpa memperuncing perbedaan. Dan melihat betapa terselubung dan luasnya makna fasisme, sudah saatnya kita berkaca dan bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita termasuk fasis?
Thursday, 29 May 2008
Tutorial Mudah Merakit Komputer
(tulisan pertamaku yang berhubungan dengan computer:D )
Awalnya ga kepikiran bakal nulis artikel yang berhubungan dengan komputer. Tapi karena didasari rasa iri berlebihan setelah melihat blog temen-temen kuliahku yang dipenuhi artikel tentang komputer, maka dengan sangat-sangat terpaksa menulislah aku tentang sesuatu yang berbau komputer. (emang komputer baunya gmn?)
Setelah bingung mikir-mikir topik apa yang pantas ditulis oleh mahasiswa Teknik Informatika semester 8 yang masih ngulang kuliah bareng anak 2007 dan Tugas Akhirnya ga ada perkembangan, akhirnya kuputuskan untuk menulis sebuah tutorial dahsyat yang pastinya akan sangat membantu para pembaca.... dan judulnya adalaaaah...(drum roll).....taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......Tutorial Merakit Komputer.
Yup. Mengapa aku milih topik ini? Karena ini adalah ilmu dasar untuk temen-temen yang ingin belajar komputer. Oke deh, kita mulai. Tapi tolong diperhatikan baik-baik. Soalnya emang rada sulit. Tapi aku coba menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
1.Pertama, ketahui spek yang akan kamu rakit. Dan pahami mengenai kesesuaian antar spek tersebut.
2.Kedua, bawa hardware-hardware kamu itu kepada toko-toko komputer yang menyediakan jasa perakitan.
3.Ketiga, bilang sama mas/mbaknya ”mas/mbak, mau ngrakit komputer. Ini hardwarenya...Kira-kira habis brapa? Oke..terima kasih..mas/mbaknya baek deh..”.
4.Nah, selama mas/mbaknya ngrakit, kamu bisa istirahat setelah sebegitu capeknya melakukan langkah 1-3...
5.Setelah mbak/mas-nya selesai ngrakit, lalu bawa pulang tuh komputer. Jangan lupa dibayar dulu...
6.Colokin kabelnya ke colokan listrik. Terus tekan tombol power.
7.Waaaaaaaaaaaaaaaa.......komputernya idup....
8.Nah kalau sudah begitu, berarti kamu sudah bisa merakit komputer sendiri....
Fiuuhhh.....akhirnya selesai juga menulis tutorial di atas. Semoga temen-temen ga kebingungan mengikuti langkah-langkah di atas. Selamat mencoba...
*tutorial di atas murni tulisanku sendiri lho... :p
Sunday, 25 May 2008
STRAIGHT EDGE DAN AKU…

Mungkin tidak pernah terpikir di benak personel Minor Threat bahwa lagu yang dibuatnya akan melahirkan secara tidak sengaja sebuah kultur yang hingga kini belum padam. Bahkan semakin membesar. Ya! Straight Edge…. Nama itu dan prinsip-prinsip yang ada di dalamnya memang diambil dari lagu yang dimiliki oleh Minor Threat, yang konon Ian MacKaye(vocal) sendiri justru tidak pernah mengeklaim dirinya sebagai straight edge kid walau dalam hidupnya dia mengaplikasikan gaya hidup positif ala straight edge. Entah mana yang benar... Meski harus diakui Minor Threat cukup berjasa besar dalam kelahiran kultur positif ini, tapi aku merasa bahwa kita tidak perlu mengagung-agungkan atau mengkultuskan secara berlebihan terhadap Minor Threat dan band-band lainnya yang cukup berjasa dalam membesarkan sXe. Yah...sewajarnya saja lah. Karena pada akhirnya, diri kita lah yang berhak memutuskan semua yang akan kita lakukan. Bukan mereka.
Tidak akan aku bahas panjang lebar disini tentang seluk beluk straight edge. Cukup sekilas saja. Karena sebenarnya aku hanya ingin berbagi pengalamanku mengenai straight edge dan diriku. Mengenai sejarah dan segala hal tentang straight edge bisa dicari lewat google:D Tapi hati-hati, internet adalah dunia maya luas yang di dalamnya hanya terdapat pemisah tipis antara berita yang benar dan yang salah. Ada banyak artikel tentang straight edge yang dikupas dengan benar, ada pula yang menyesatkan.
Dari sudut pandangku sendiri, straight edge (sXe) bukanlah agama, dogma ataupun set of rule yang akan mendikte apa yang harus kita lakukan. Tapi sXe adalah mutlak pilihan pribadi sebagai motivasi dan self-control untuk hidup positif tanpa meracuni tubuh dengan rokok, alcohol, drug dan casual sex(beberapa orang tidak menyertakannya sebagai konsep utama). Pada perkembangannya, banyak yang menjadikan vegetarian/vegan dan anti-kafein menjadi bagian dari kehidupan sXe kid karena mereka percaya vegetarian/vegan dan anti-kafein adalah termasuk gaya hidup positif. Tapi itu tidak mutlak. Karena vegetarian/vegan dan anti-kafein bukanlah murni bagian dari sXe.
Straight Edge itu sendiri lahir pada tahun 80an di dalam scene punk. Tapi pada perkembangannya, prinsip-prinsip sXe banyak diadopsi oleh orang-orang di luar scene punk/hardcore. Baik itu skinhead, rude boy bahkan pop star dan lainnya. Tapi hal itu bukan lah suatu masalah. Justru itu adalah hal yang baik. Karena sXe tidak memaksa kita harus menjadi punk/hardcore kid terlebih dulu untuk menjadi sXe. Walaupun setidaknya cukup tahu mengenai histori dan seluk beluk mengenainya. Bukankah akan menjadi sangat konyol kalau kita mengikuti suatu kultur tapi kita sendiri tidak tahu mengenai seluk beluk kultur tersebut :D
Dalam kenyataannya, banyak sekali orang di dalam scene punk/hardcore yang bergaya hidup positif tapi tidak mau mengeklaim dirinya seorang sXe. Pada umumnya mereka mempunyai alasan karena tidak mau diatur oleh aturan-aturan, karena ingin lebih bebas, karena pengeklaiman hanya menimbulkan kesan ekslusivitas dan berbagai alasan lainnya. Itu bukan masalah. Karena yang terpenting bukanlah mengenai pengeklaiman tersebut, tapi lebih penting pengaplikasian prinsip hidup positif dalam kehidupan sehari-hari. So, tidak ada larangan atau keharusan dalam pengeklaiman diri.
Tapi menurutku pribadi, mengeklaim diriku sebagai sXe tidak membuatku terkekang oleh definisi dan aturan. Karena sekali lagi, sXe bukanlah sekumpulan aturan yang mengharuskan kita begini atau kita begitu. Dan bagiku, mengeklaim diriku sebagai sXe kid bukan berarti kita mengeksklusifkan diri dari orang non-straight edge, toh pada pengaplikasiannya sXe kid tetap berbaur dengan non-straight edge. Bahkan kadang berbaur dalam satu scene dan membuat acara bersama. Kalaupun di beberapa daerah terjadi ekslusivitas sXe kids yang mengucilkan diri dari orang-orang non sXe, berarti ada yang salah dalam pemikiran sXe kid atau orang non-sXe tersebut mengenai pemahaman mereka tentang sXe. Karena menjadi sXe bukan berarti lebih baik dari mereka yang bukan sXe. Tapi menjadi sXe adalah sebuah personal choice untuk melakukan perubahan dalam diri kita dengan cara kita dan itu tidak bisa dipaksakan!
Aku pribadi tidak suka menggembar-gemborkan label sXe pada diriku secara berlebihan. Karena bukan label yang terpenting, tapi pengaplikasian dalam kehidupan nyata. Percuma menggunakan sXe watch, sXe shirt, sXe jacket atau ratusan pin sXe di tas-mu kalau pada pengaplikasiannya NOL BESAR. Karena melabeli diri dengan straight edge tidak membuat merasa lebih suci dari yang lain. It’s personal-choice, dude!
Walau emang sih, banyak banget orang yang sinis terhadap sXe. Dianggap sok suci lah, sok eksklusif lah dan anggapan-anggapan lain. Aku sendiri pernah juga disindir dengan sinis waktu awal-awal menjadi sXe. Dicap sok suci, sok bersih. Awalnya sih sebel juga. Tapi lama-kelamaan aku cuekin aja. Lagi pula aku hanya membenci barangnya, bukan penggunanya. Aku benci rokok/alkohol/drug, tp aku ga benci penggunanya. Temenku banyak juga yang merokok/minum/nge-drug. Tapi aku ga benci mereka.
Aku mendengar nama sXe sekitar 8-9 tahun yang lalu ketika aku masih SMP. Aku tahu kultur itu dari booklet/newsletter yang dibawa kakakku. Saat itu kubaca artikel tentang sXe dan vegetarian. Bukan sXe yang menarik bagiku saat itu, karena karena ketika itu aku sedang senang-senangnya menghisap ”Tuhan beberapa sentimeter” bernama rokok . Tapi justru vegetarian yang menarik bagiku saat itu. Dan coba-coba lah aku menjadi vegetarian. Akhirnya hanya bertahan 3 bulan saja...Hahahahaha...Mungkin karena belum ada kesadaran dan pemantapan hati ketika saat itu memutuskan untuk menjadi vegetarian. Dan setelah itu, issue tentang sXe dan vegetarian tidak lagi menarik bagiku. Apalagi beberapa bulan setelahnya, asap rokok, alkohol dan ”heaven’s leaf” memanjakanku dengan kenikmatan semu-nya.
Hingga akhirnya sekitar tahun 2003 aku mendapat sebuah newsletter berkonsep straight edge vegan punk/hardcore dari temanku. Di situ lagi-lagi dibahas mengenai sXe dan vegetarian. Saat itu karena tidak ada kerjaan, kubaca aja. Lagi pula newsletter itu gratis.
Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, saat itu aku benar-benar membacanya dalam-dalam mengenai ulasan tentang sXe dan vegetarian itu. Padahal isinya sudah kupahami bertahun-tahun sebelumnya. Tapi tidak lantas aku langsung menjadi seorang vegetarian sXe. Aku cukup dewasa untuk tidak menjadi bunglon yang bisanya hanya ikut-ikutan tanpa berpikir panjang. Hanya saja saat itu aku sudah merasa bahwa filosofi sXe dan vegetarian yang tertulis di artikel itu adalah benar, positif dan sangat masuk akal. Meski saat itu aku masih merokok, aku tetap tertarik untuk mencari seluk beluk tentang sXe dan vegetarian. Bersamaan dengan itu, aku mulai meninggalkan rokok, alkohol dan daging. Sedangkan ”heaven’s leaf” sudah kutinggalkan jauh sebelum itu. Tapi walau sudah begitu. aku tidak mengeklaim diri sebagai sXe dan vegetarian. Karena aku tidak mau mengeklaim sesuatu tanpa aku benar-benar paham terlebih dahulu. Dan aku tidak mau menjadi sXe atau vegetarian hanya agar terlihat keren dan berani beda. Baru kemudian beberapa saat setelahnya, baru aku benar-benar mantap untuk mengeklaim diri sebagai sXe kid dan vegetarian. Pengeklaiman itu bukan berarti aku lalu membuat pengumuman kepada teman-temanku bahwa aku telah menjadi sXe dan vegetarian. Tapi cukup mengeklaim dalam hatiku saja.
Kalau aku juga menjadi seorang vegetarian bukanlah karena banyak sXe kids yang juga vegetarian Tapi semata-mata karena memang alasan-alasan untuk menjadi vegetarian dan efek positifnya adalah sangat masuk akal bagiku.
Seiring berjalannya waktu, aku semakin merasa mantap bahwa kita semua bisa hidup tanpa mengkonsumsi rokok, drug, alkohol, casual sex dan daging. Bahkan kita tetap bisa beraksi gila-gilaan di atas panggung tanpa hal-hal tersebut!
Straight Edge, Vegetarian dan Agamaku (ISLAM)
Ada pertanyaan yang menurutku lucu pernah dilontarkan temanku ketika aku bercerita kenapa aku menjadi sXe dan vegetarian. Dia bertanya, ”Kenapa harus menjadi sXe dan vegetarian? Apa agamamu itu saja tidak cukup untuk menjadi pengontrol dirimu? Bukankah agama sudah cukup untuk menjadi dasar dalam mencapai kehidupan yang positif?”
Hmmm... Sebenarnya bukan hal yang susah untuk menjawabnya. Hanya saja, menghadapi penanya yang hobinya ngeyel tanpa dasar haruslah menjawab dengan hati-hati dan gamblang.
Dan kujawab, bagiku straight edge dan vegetarian bukanlah agama baru. Menjadi sXe dan vegetarian juga tidak menurunkan fungsi agama dalam hidupku. Kalau diibaratkan sebuah rumah dengan pagar, maka aku adalah rumah dan pagar-pagar itu adalah prinsip. Prinsip itu bisa agama, sXe, vegetarian dan prinsip-prinsip lain dalam hidupku. Diibaratkan sebuah pagar, maka bagiku, agama adalah pagar utama sedangkan prinsip lainnya (termasuk sXe dan vegetarian) adalah pagar tambahan yang fungsinya membantu menambah kokoh dalam fungsinya sebagai pelindung rumah. Selama pagar-pagar itu tidak saling bersilangan, bukankah tidak akan masalah? Justru rumah itu semakin terlindungi. Dan prinsip-prinsip sXe dan vegetarian menurutku tidak ada yang melanggar aturan-aturan agamaku. Apakah Islam akan mendosakan orang yang tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak menggunakan narkoba, menolak casual sex dan tidak makan daging? Tidak kan? Memang sih, tidak ada ajaran dalam Islam yang mengharamkan daging. Tapi tidak ada pula kan di dalam ajaran Islam yang mewajibkan makan daging?
Lalu temanku bertanya lagi, ”Pada Idul Adha bukankah dilakukan penyembelihan hewan sebagai korban?”. Yup benar. Sebagai seorang muslim yang vegetarian, sering sekali aku mendapat pertanyaan seperti ini. Dan jawabanku tetap sama. Walau mungkin terdengar konyol. Bagiku, penyembelihan hewan sebagai korban ketika Idul Adha itu lain soal. Penyembelihan itu nyata-nyata diwajibkan olehNya. Tapi kita tidak diwajibkan untuk memakan dagingnya kan? Bahkan justru daging itu lebih pantas diberikan kepada kaum miskin. Selain itu, aku percaya bahwa hewan yang mati saat Idul Adha mati dengan bahagia karena dia memenuhi kewajibannya pada hari Idul Adha dan mereka disembelih dengan cara yang baik dengan perlakuan yang baik pula. Berbeda dengan hewan yang mati hanya untuk memuaskan nafsu lidah kita. Tapi bagaimana juga, itu tergantung kepercayaan kita masing-masing...Yang jelas, tidak ada ajaran dalam agamaku yang mewajibkan kita untuk makan daging :D. Wah malah jadi melenceng terlalu jauh ke topik vegetarian nih..Hehehe...Cukup itu dulu deh masalah vegetariannya, mungkin nanti aku akan menulis pengalaman dan pandanganku tentang vegetarian.
Dan akhirnya, aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku tetap menjadi seorang sXe dan vegetarian. Berubah? Hmmm... Aku tidak mau bilang ”Aku tidak akan berubah”. Karena perubahan itu adalah hal yang wajar, selama perubahan itu terjadi melalui pemikiran yang mendalam, bukan karena ikut-ikutan semata. Yang jelas, selama aku masih bisa bertahan hidup tanpa rokok, alkohol, drug, one night stand sex dan daging, aku akan tetap berusaha mempertahankannya.
p.s: Sorry buat temen-temen kalau ada yang mungkin kurang berkenan dengan tulisanku di atas. Itu hanyalah curahan pikiranku semata. Kita masih berada di negara yang memperbolehkan warganya untuk mencurahkan pikirannya bukan?:D Buat temen-temen yang mau komentar, mengkritik, mencerca, menghina atau berbagi pengalaman, silakan tulis aja di comment box. Tapi lagi-lagi mohon maap, kalo misal ada yang ga sempet kutanggepi. (walah...sok banget...hahahaha)
* gambar sXe diambil dari situs lain. (maap lupa alamatnya) :D

