Maaf kalau judulnya terkesan kasar. Tapi apa yang diperbuat drug dealer lebih kasar dan kejam bagi banyak orang. Tentunya yang dimaksud disini adalah drug dealer yang menjual obat-obat terlarang yang sangat rentan penyalahgunaannya. Kalau banyak orang biasa bilang bandar, BD atau sebutan lainnya.
Seperti sebuah deret ukur, jumlah pemakai narkoba di Indonesia kian hari kian meningkat. Korban terus berjatuhan. Menurut hasil penelitian dari Lembaga Pranata Universitas Indonesia dan Badan Narkotika Nasional (BNN) selama tahun 2003, pemakai obat terlarang sudah mencapai sekitar enam juta orang, atau hampir mencapai 3 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, 1,3 juta di antaranya berada di Jakarta, sementara kota-kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Bali, rata-rata di bawah satu juta orang.(http://www.suarapembaruan.com)
Banyak yang bilang hubungan penjual dan pembeli itu semacam hubungan ayam dan telor. Mana yang lebih dulu ada? Tentu banyak orang bingung. Mana yang lebih dulu ada, bandar atau pengguna? Tergantung. Tapi dalam kasus narkoba ini, peran penjual jauh lebih besar dalam membantu penyebaran barang-barang tersebut. Mengapa yang harus lebih diutamakan adalah membasmi penjualnya tapi bukan membasmi konsumennya? Jawabnya adalah karena hal itu lebih efektif. Ya! Umpamakan di dunia ini tidak ada penjual narkoba, tentu tidak akan ada yang mengkonsumsinya walaupun jutaan orang mencarinya. Tapi andaikata kondisinya di balik, seumpama di dunia ini tidak ada pengguna narkoba tapi terdapat satu saja penjual narkoba, jelas mau tidak mau penjual itu akan berupaya dengan segala cara agar mendapatkan konsumen sebanyak mungkin. Karena itu lah membasmi bandar narkoba lebih efektif dibanding membasmi satu persatu pengguna narkoba. Itu disebabkan lagi karena jumlah penjual narkoba pasti lebih sedikit dari penggunanya. Ibaratkan 1 penjual mempunyai pelanggan 10 orang, dengan membasmi penjual yang jumlahnya satu tersebut lebih mudah dibanding membasmi penggunanya yang sepuluh orang tersebut. Dengan melenyapkan 1 penjual cukup membuat 10 pelanggan kelimpungan untuk mendapatkan barang-barang tersebut.
Itu lah mengapa judul artikel ini "DRUG DEALER MUST DIE!!!" bukan "DRUG USER MUST DIE!!!"
Sebagian besar pengguna narkoba mulai menggunakan obat-obat tersebut karena dijebak kawannya, dipengaruhi lingkungan, jiwa yang tidak stabil, masalah keluarga dan lain-lainnya yang pada akhirnya menyebabkan terjerat dalam jaring-jaring narkoba. Tapi, penjual narkoba jelas-jelas dengan sadar dan segala upaya mencoba memasarkan barang-barang tersebut hanya dengan satu alasan: UANG! Mereka tidak akan peduli akan kenyataan bahwa pelanggannya semakin mirip mayat hidup yang terkucil dari pergaulan karena dia seorang pengguna.
Terkadang masalah narkoba ini bertentangan dengan konsep kebebasan dan hak asasi manusia. Sebagian orang menganggap menggunakan narkoba adalah suatu kebebasan. Selama tidak mengganggu orang lain ya tidak masalah. Tapi mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya perbuatan mereka menggunakan narkoba itu sudah merugikan baik dirinya sendiri maupun orang lain. Karyawan yang menggunakan narkoba tidak mampu bekerja maksimal, jelas itu akan merugikan tempat dimana ia bekerja. Ibu yang menggunakan narkoba terkadang membuatnya enggan mengurus rumah tangga, itu jelas merugikan keluarganya. Orang yang menggunakan narkoba terkadang terjerat utang untuk memuaskan keinginannya membeli narkoba dan itu sering membuatnya menjadi seorang pencuri, jelas itu akan merugikan orang disekitarnya. Itu hanya sebagian contoh kecil dari penggunaan narkoba. Jadi, sudah saatnya menghilangkan pendapat bahwa menggunakan narkoba adalah kebebasan pribadi yang tidak merugikan orang lain.
Tidak ada kata terlambat untuk memerangi penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Lakukan langkah-langkah nyata yang walau terlihat sepele namun berarti, misal:
- Menyebarkan informasi tentang bahaya narkoba, baik hanya melalui obrolan di kantin kampus maupun melalui seminar.
- Jangan jauhi pengguna narkoba (tapi juga jangan terpengaruh untuk menjadi pengguna:p). Karena terkadang mereka sebenarnya ingin sembuh, tapi belum mampu. Diperparah kondisi lingkungan yang mengucilkannya, akan membuat mereka semakin terperosok. Akan lebih baik apabila kita bisa mengajaknya untuk berkegiatan positif atau bahkan membantu menyembuhkan ketergantungannya.
- Mulailah dengan teriakan : "DRUG DEALER MUST DIE!!!"
drugXfreeXyouth
Friday, 20 June 2008
DRUGS DEALERS MUST DIE!!!
Saturday, 7 June 2008
FPI = Front Pembela Islam atau Front Perusak Islam???

Lagi-lagi FPI berulah. Minggu 1 Juni 2008 mereka membabi buta menyerang anggota AKKBB yang sedang merayakan kelahiran Pancasila. Hingga tulisan ini aku posting, banyak sekali versi cerita dibelakang kejadian tersebut. Ada yang berkata pihak AKKBB yang memulai memprovokasi dengan ejekan kepada FPI, ada yang berkata FPI yang memulai, ada pula yang berkata karena kesalahan tempat pengumpulan massa AKKBB. Entah mana yang benar. Yang jelas, kejadian ini sudah kesekian kalinya FPI melakukan tindakan main hakim sendiri. Seolah mereka "polisi swasta" sekaligus "hakim" yang berhak setiap saat melakukan pemvonis-an secara sepihak.
Di luar masalah ahmadiyah yang tidak jelas ini, FPI sudah melakukan sekian aksi "superior"nya mulai dari pengrusakan tempat hiburan hingga penyerangan terhadap demonstran. Dan sayangnya, sebagian besar kasus-kasus itu tidak ditindaklanjuti secara tegas oleh pemerintah. Apakah memang benar ada kongkalikong antara FPI dan pemerintah? Entah lah...
Walaupun aku bukan seorang muslim yang pandai masalah agama, tapi aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan semacam itu. Apalagi perbedaan-perbedaan yang ada itu masih bisa didialogkan. Sayangnya, sang malaikat penghacur alias FPI, dengan garangnya membawa pentungan dan berbagai alat lalu membabi buta bertindak brutal sembari meneriakkan Allahu Akbar....Seolah-olah perbuatan mereka tersebut sudah direstui oleh Allah.
Dengan membawa nama FRONT PEMBELA ISLAM, mereka merasa sudah melindungi Islam dari berbagai serangan dan gangguan. Hmmm...Tapi setelah melihat aksi mereka selama ini, kok aku jadi bingung. Sebenarnya siapa yang sesungguhnya merusak Islam? Bukankah tindakan mereka justru membuat Islam semakin dicap sebagai agama kekerasan. Padahal sebenarnya TIDAK!
Oleh karena itu, patut dipertanyakan lagi kepanjangan dari FPI. Apakah Front Pembela Islam atau Front Perusak Islam???
Perlu dipertanyakan pula apakah FPI masih perlu dipertahankan keberadaannya???
Tuesday, 3 June 2008
PRINSIP + PARANG = FASIS
Ketika pertama mendengar kata fasisme, yang terbayang di pikiran kita adalah Mussolini dan Hitler. Yup! Tidak dapat dipungkiri bahwa popularitas fasisme dipupuk oleh keberadaan mereka.
Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara. Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah. Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah(http://id.wikipedia.org).
Tapi benarkah fasisme hanya berkutat pada seputar kecintaan berlebihan terhadap negara atau pemerintahan? Tidakkah kita sadar bahwa banyak sekali fasisme dalam bentuk lain di sekitar kita yang bersembunyi dibalik topeng yang beraneka ragam. Termasuk di dalam suatu golongan.
Golongan??! Yup!
Bukankah bisa kita lihat di sekitar kita betapa banyak golongan yang dengan prinsipnya masing-masing saling memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan terhadap golongan lain yang mungkin tidak sependapat dengan prinsipnya? Mereka merasa paling benar. Entah golongan itu berupa partai politik, kaum penganut ideologi tertentu atau bahkan AGAMA! Walau tidak semuanya seperti itu.
Tanpa sadar, kecintaan dan kepercayaan mereka terhadap prinsip yang mereka pegang telah menjadi sebuah janin yang akhirnya akan melahirkan bibit-bibit fasis dalam bentuk lain bahkan rasis. Tanpa sadar ketika mereka berusaha memaksakan prinsipnya dengan kekerasan kepada orang lain itu saja sudah cukup untuk melahirkan sebuah sikap fasis. Sebuah sikap yang tidak menghargai perbedaan.
Sudah berapa banyak orang yang menjadi korban fasisme dalam jenis tersebut? Tidak terhitung jumlahnya, sobat! Coba hitung saja korban keganasan kaum puritan hingga korban Zionisme keparat. Korban dari kepicikan Noe-Nazi hingga kebodohan supporter klub sepakbola fanatik sempit. Korban dari keparanoid-an George Bush hingga korban kaum straight edge gadungan yang mengaku sebagai ”hardline” tanpa dia paham apa itu definisi ”hardline” sesungguhnya.. Dan masih banyak lagi...
Sudah saatnya kita menghargai perbedaan. Hidup berdampingan tanpa memperuncing perbedaan. Dan melihat betapa terselubung dan luasnya makna fasisme, sudah saatnya kita berkaca dan bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita termasuk fasis?
Thursday, 29 May 2008
Tutorial Mudah Merakit Komputer
(tulisan pertamaku yang berhubungan dengan computer:D )
Awalnya ga kepikiran bakal nulis artikel yang berhubungan dengan komputer. Tapi karena didasari rasa iri berlebihan setelah melihat blog temen-temen kuliahku yang dipenuhi artikel tentang komputer, maka dengan sangat-sangat terpaksa menulislah aku tentang sesuatu yang berbau komputer. (emang komputer baunya gmn?)
Setelah bingung mikir-mikir topik apa yang pantas ditulis oleh mahasiswa Teknik Informatika semester 8 yang masih ngulang kuliah bareng anak 2007 dan Tugas Akhirnya ga ada perkembangan, akhirnya kuputuskan untuk menulis sebuah tutorial dahsyat yang pastinya akan sangat membantu para pembaca.... dan judulnya adalaaaah...(drum roll).....taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......Tutorial Merakit Komputer.
Yup. Mengapa aku milih topik ini? Karena ini adalah ilmu dasar untuk temen-temen yang ingin belajar komputer. Oke deh, kita mulai. Tapi tolong diperhatikan baik-baik. Soalnya emang rada sulit. Tapi aku coba menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.
1.Pertama, ketahui spek yang akan kamu rakit. Dan pahami mengenai kesesuaian antar spek tersebut.
2.Kedua, bawa hardware-hardware kamu itu kepada toko-toko komputer yang menyediakan jasa perakitan.
3.Ketiga, bilang sama mas/mbaknya ”mas/mbak, mau ngrakit komputer. Ini hardwarenya...Kira-kira habis brapa? Oke..terima kasih..mas/mbaknya baek deh..”.
4.Nah, selama mas/mbaknya ngrakit, kamu bisa istirahat setelah sebegitu capeknya melakukan langkah 1-3...
5.Setelah mbak/mas-nya selesai ngrakit, lalu bawa pulang tuh komputer. Jangan lupa dibayar dulu...
6.Colokin kabelnya ke colokan listrik. Terus tekan tombol power.
7.Waaaaaaaaaaaaaaaa.......komputernya idup....
8.Nah kalau sudah begitu, berarti kamu sudah bisa merakit komputer sendiri....
Fiuuhhh.....akhirnya selesai juga menulis tutorial di atas. Semoga temen-temen ga kebingungan mengikuti langkah-langkah di atas. Selamat mencoba...
*tutorial di atas murni tulisanku sendiri lho... :p
Sunday, 25 May 2008
STRAIGHT EDGE DAN AKU…

Mungkin tidak pernah terpikir di benak personel Minor Threat bahwa lagu yang dibuatnya akan melahirkan secara tidak sengaja sebuah kultur yang hingga kini belum padam. Bahkan semakin membesar. Ya! Straight Edge…. Nama itu dan prinsip-prinsip yang ada di dalamnya memang diambil dari lagu yang dimiliki oleh Minor Threat, yang konon Ian MacKaye(vocal) sendiri justru tidak pernah mengeklaim dirinya sebagai straight edge kid walau dalam hidupnya dia mengaplikasikan gaya hidup positif ala straight edge. Entah mana yang benar... Meski harus diakui Minor Threat cukup berjasa besar dalam kelahiran kultur positif ini, tapi aku merasa bahwa kita tidak perlu mengagung-agungkan atau mengkultuskan secara berlebihan terhadap Minor Threat dan band-band lainnya yang cukup berjasa dalam membesarkan sXe. Yah...sewajarnya saja lah. Karena pada akhirnya, diri kita lah yang berhak memutuskan semua yang akan kita lakukan. Bukan mereka.
Tidak akan aku bahas panjang lebar disini tentang seluk beluk straight edge. Cukup sekilas saja. Karena sebenarnya aku hanya ingin berbagi pengalamanku mengenai straight edge dan diriku. Mengenai sejarah dan segala hal tentang straight edge bisa dicari lewat google:D Tapi hati-hati, internet adalah dunia maya luas yang di dalamnya hanya terdapat pemisah tipis antara berita yang benar dan yang salah. Ada banyak artikel tentang straight edge yang dikupas dengan benar, ada pula yang menyesatkan.
Dari sudut pandangku sendiri, straight edge (sXe) bukanlah agama, dogma ataupun set of rule yang akan mendikte apa yang harus kita lakukan. Tapi sXe adalah mutlak pilihan pribadi sebagai motivasi dan self-control untuk hidup positif tanpa meracuni tubuh dengan rokok, alcohol, drug dan casual sex(beberapa orang tidak menyertakannya sebagai konsep utama). Pada perkembangannya, banyak yang menjadikan vegetarian/vegan dan anti-kafein menjadi bagian dari kehidupan sXe kid karena mereka percaya vegetarian/vegan dan anti-kafein adalah termasuk gaya hidup positif. Tapi itu tidak mutlak. Karena vegetarian/vegan dan anti-kafein bukanlah murni bagian dari sXe.
Straight Edge itu sendiri lahir pada tahun 80an di dalam scene punk. Tapi pada perkembangannya, prinsip-prinsip sXe banyak diadopsi oleh orang-orang di luar scene punk/hardcore. Baik itu skinhead, rude boy bahkan pop star dan lainnya. Tapi hal itu bukan lah suatu masalah. Justru itu adalah hal yang baik. Karena sXe tidak memaksa kita harus menjadi punk/hardcore kid terlebih dulu untuk menjadi sXe. Walaupun setidaknya cukup tahu mengenai histori dan seluk beluk mengenainya. Bukankah akan menjadi sangat konyol kalau kita mengikuti suatu kultur tapi kita sendiri tidak tahu mengenai seluk beluk kultur tersebut :D
Dalam kenyataannya, banyak sekali orang di dalam scene punk/hardcore yang bergaya hidup positif tapi tidak mau mengeklaim dirinya seorang sXe. Pada umumnya mereka mempunyai alasan karena tidak mau diatur oleh aturan-aturan, karena ingin lebih bebas, karena pengeklaiman hanya menimbulkan kesan ekslusivitas dan berbagai alasan lainnya. Itu bukan masalah. Karena yang terpenting bukanlah mengenai pengeklaiman tersebut, tapi lebih penting pengaplikasian prinsip hidup positif dalam kehidupan sehari-hari. So, tidak ada larangan atau keharusan dalam pengeklaiman diri.
Tapi menurutku pribadi, mengeklaim diriku sebagai sXe tidak membuatku terkekang oleh definisi dan aturan. Karena sekali lagi, sXe bukanlah sekumpulan aturan yang mengharuskan kita begini atau kita begitu. Dan bagiku, mengeklaim diriku sebagai sXe kid bukan berarti kita mengeksklusifkan diri dari orang non-straight edge, toh pada pengaplikasiannya sXe kid tetap berbaur dengan non-straight edge. Bahkan kadang berbaur dalam satu scene dan membuat acara bersama. Kalaupun di beberapa daerah terjadi ekslusivitas sXe kids yang mengucilkan diri dari orang-orang non sXe, berarti ada yang salah dalam pemikiran sXe kid atau orang non-sXe tersebut mengenai pemahaman mereka tentang sXe. Karena menjadi sXe bukan berarti lebih baik dari mereka yang bukan sXe. Tapi menjadi sXe adalah sebuah personal choice untuk melakukan perubahan dalam diri kita dengan cara kita dan itu tidak bisa dipaksakan!
Aku pribadi tidak suka menggembar-gemborkan label sXe pada diriku secara berlebihan. Karena bukan label yang terpenting, tapi pengaplikasian dalam kehidupan nyata. Percuma menggunakan sXe watch, sXe shirt, sXe jacket atau ratusan pin sXe di tas-mu kalau pada pengaplikasiannya NOL BESAR. Karena melabeli diri dengan straight edge tidak membuat merasa lebih suci dari yang lain. It’s personal-choice, dude!
Walau emang sih, banyak banget orang yang sinis terhadap sXe. Dianggap sok suci lah, sok eksklusif lah dan anggapan-anggapan lain. Aku sendiri pernah juga disindir dengan sinis waktu awal-awal menjadi sXe. Dicap sok suci, sok bersih. Awalnya sih sebel juga. Tapi lama-kelamaan aku cuekin aja. Lagi pula aku hanya membenci barangnya, bukan penggunanya. Aku benci rokok/alkohol/drug, tp aku ga benci penggunanya. Temenku banyak juga yang merokok/minum/nge-drug. Tapi aku ga benci mereka.
Aku mendengar nama sXe sekitar 8-9 tahun yang lalu ketika aku masih SMP. Aku tahu kultur itu dari booklet/newsletter yang dibawa kakakku. Saat itu kubaca artikel tentang sXe dan vegetarian. Bukan sXe yang menarik bagiku saat itu, karena karena ketika itu aku sedang senang-senangnya menghisap ”Tuhan beberapa sentimeter” bernama rokok . Tapi justru vegetarian yang menarik bagiku saat itu. Dan coba-coba lah aku menjadi vegetarian. Akhirnya hanya bertahan 3 bulan saja...Hahahahaha...Mungkin karena belum ada kesadaran dan pemantapan hati ketika saat itu memutuskan untuk menjadi vegetarian. Dan setelah itu, issue tentang sXe dan vegetarian tidak lagi menarik bagiku. Apalagi beberapa bulan setelahnya, asap rokok, alkohol dan ”heaven’s leaf” memanjakanku dengan kenikmatan semu-nya.
Hingga akhirnya sekitar tahun 2003 aku mendapat sebuah newsletter berkonsep straight edge vegan punk/hardcore dari temanku. Di situ lagi-lagi dibahas mengenai sXe dan vegetarian. Saat itu karena tidak ada kerjaan, kubaca aja. Lagi pula newsletter itu gratis.
Berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, saat itu aku benar-benar membacanya dalam-dalam mengenai ulasan tentang sXe dan vegetarian itu. Padahal isinya sudah kupahami bertahun-tahun sebelumnya. Tapi tidak lantas aku langsung menjadi seorang vegetarian sXe. Aku cukup dewasa untuk tidak menjadi bunglon yang bisanya hanya ikut-ikutan tanpa berpikir panjang. Hanya saja saat itu aku sudah merasa bahwa filosofi sXe dan vegetarian yang tertulis di artikel itu adalah benar, positif dan sangat masuk akal. Meski saat itu aku masih merokok, aku tetap tertarik untuk mencari seluk beluk tentang sXe dan vegetarian. Bersamaan dengan itu, aku mulai meninggalkan rokok, alkohol dan daging. Sedangkan ”heaven’s leaf” sudah kutinggalkan jauh sebelum itu. Tapi walau sudah begitu. aku tidak mengeklaim diri sebagai sXe dan vegetarian. Karena aku tidak mau mengeklaim sesuatu tanpa aku benar-benar paham terlebih dahulu. Dan aku tidak mau menjadi sXe atau vegetarian hanya agar terlihat keren dan berani beda. Baru kemudian beberapa saat setelahnya, baru aku benar-benar mantap untuk mengeklaim diri sebagai sXe kid dan vegetarian. Pengeklaiman itu bukan berarti aku lalu membuat pengumuman kepada teman-temanku bahwa aku telah menjadi sXe dan vegetarian. Tapi cukup mengeklaim dalam hatiku saja.
Kalau aku juga menjadi seorang vegetarian bukanlah karena banyak sXe kids yang juga vegetarian Tapi semata-mata karena memang alasan-alasan untuk menjadi vegetarian dan efek positifnya adalah sangat masuk akal bagiku.
Seiring berjalannya waktu, aku semakin merasa mantap bahwa kita semua bisa hidup tanpa mengkonsumsi rokok, drug, alkohol, casual sex dan daging. Bahkan kita tetap bisa beraksi gila-gilaan di atas panggung tanpa hal-hal tersebut!
Straight Edge, Vegetarian dan Agamaku (ISLAM)
Ada pertanyaan yang menurutku lucu pernah dilontarkan temanku ketika aku bercerita kenapa aku menjadi sXe dan vegetarian. Dia bertanya, ”Kenapa harus menjadi sXe dan vegetarian? Apa agamamu itu saja tidak cukup untuk menjadi pengontrol dirimu? Bukankah agama sudah cukup untuk menjadi dasar dalam mencapai kehidupan yang positif?”
Hmmm... Sebenarnya bukan hal yang susah untuk menjawabnya. Hanya saja, menghadapi penanya yang hobinya ngeyel tanpa dasar haruslah menjawab dengan hati-hati dan gamblang.
Dan kujawab, bagiku straight edge dan vegetarian bukanlah agama baru. Menjadi sXe dan vegetarian juga tidak menurunkan fungsi agama dalam hidupku. Kalau diibaratkan sebuah rumah dengan pagar, maka aku adalah rumah dan pagar-pagar itu adalah prinsip. Prinsip itu bisa agama, sXe, vegetarian dan prinsip-prinsip lain dalam hidupku. Diibaratkan sebuah pagar, maka bagiku, agama adalah pagar utama sedangkan prinsip lainnya (termasuk sXe dan vegetarian) adalah pagar tambahan yang fungsinya membantu menambah kokoh dalam fungsinya sebagai pelindung rumah. Selama pagar-pagar itu tidak saling bersilangan, bukankah tidak akan masalah? Justru rumah itu semakin terlindungi. Dan prinsip-prinsip sXe dan vegetarian menurutku tidak ada yang melanggar aturan-aturan agamaku. Apakah Islam akan mendosakan orang yang tidak merokok, tidak minum alkohol, tidak menggunakan narkoba, menolak casual sex dan tidak makan daging? Tidak kan? Memang sih, tidak ada ajaran dalam Islam yang mengharamkan daging. Tapi tidak ada pula kan di dalam ajaran Islam yang mewajibkan makan daging?
Lalu temanku bertanya lagi, ”Pada Idul Adha bukankah dilakukan penyembelihan hewan sebagai korban?”. Yup benar. Sebagai seorang muslim yang vegetarian, sering sekali aku mendapat pertanyaan seperti ini. Dan jawabanku tetap sama. Walau mungkin terdengar konyol. Bagiku, penyembelihan hewan sebagai korban ketika Idul Adha itu lain soal. Penyembelihan itu nyata-nyata diwajibkan olehNya. Tapi kita tidak diwajibkan untuk memakan dagingnya kan? Bahkan justru daging itu lebih pantas diberikan kepada kaum miskin. Selain itu, aku percaya bahwa hewan yang mati saat Idul Adha mati dengan bahagia karena dia memenuhi kewajibannya pada hari Idul Adha dan mereka disembelih dengan cara yang baik dengan perlakuan yang baik pula. Berbeda dengan hewan yang mati hanya untuk memuaskan nafsu lidah kita. Tapi bagaimana juga, itu tergantung kepercayaan kita masing-masing...Yang jelas, tidak ada ajaran dalam agamaku yang mewajibkan kita untuk makan daging :D. Wah malah jadi melenceng terlalu jauh ke topik vegetarian nih..Hehehe...Cukup itu dulu deh masalah vegetariannya, mungkin nanti aku akan menulis pengalaman dan pandanganku tentang vegetarian.
Dan akhirnya, aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku tetap menjadi seorang sXe dan vegetarian. Berubah? Hmmm... Aku tidak mau bilang ”Aku tidak akan berubah”. Karena perubahan itu adalah hal yang wajar, selama perubahan itu terjadi melalui pemikiran yang mendalam, bukan karena ikut-ikutan semata. Yang jelas, selama aku masih bisa bertahan hidup tanpa rokok, alkohol, drug, one night stand sex dan daging, aku akan tetap berusaha mempertahankannya.
p.s: Sorry buat temen-temen kalau ada yang mungkin kurang berkenan dengan tulisanku di atas. Itu hanyalah curahan pikiranku semata. Kita masih berada di negara yang memperbolehkan warganya untuk mencurahkan pikirannya bukan?:D Buat temen-temen yang mau komentar, mengkritik, mencerca, menghina atau berbagi pengalaman, silakan tulis aja di comment box. Tapi lagi-lagi mohon maap, kalo misal ada yang ga sempet kutanggepi. (walah...sok banget...hahahaha)
* gambar sXe diambil dari situs lain. (maap lupa alamatnya) :D
Tuesday, 20 May 2008
SAJAK SUARA

oleh Widji Thukul
sesungguhnya suara itu tak bisa diredam
mulut bisa dibungkam
namun siapa mampu menghentikan nyanyian bimbang
dan pertanyaan-pertanyaan dari lidah jiwaku
suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
sesungguhnya suara itu bukan perampok
yang ingin merayah hartamu
ia ingin bicara
mengapa kau kokang senjata
dan gemetar ketika suara-suara itu
menuntut keadilan?
sesungguhnya suara itu akan menjadi kata
ialah yang mengajari aku bertanya
dan pada akhirnya tidak bisa tidak
engkau harus menjawabnya
apabila engkau tetap bertahan
aku akan memburumu seperti kutukan
===================================================
dari admin:
blm begitu lama kenal sama karya2 Widji Thukul. Tapi begitu baca beberapa karyanya, walau cuma sekilas, bisa membuatku terbawa ke dunia dan amarahnya saat dia menorehkan tinta untuk membuat suatu karya yang menurutku lebih tajam dibanding pedang dan lebih membakar dibanding kobaran molotov yang sudah terlempar...
Atheis
Cerpen M. Dawam Rahardjo
Dimuat di Media Indonesia 09/02/2007
KAKAK kami Suparman kini tinggal di Jakarta menjelang masa pensiun. Tapi ia tidak terikat. Karena ia mengelola sebuah perusahaan konsultan sendiri, dengan karyawan sekitar 50 orang. Ia adalah seorang arsitek lulusan ITB. Setelah lulus, ia melamar sebagai arsitek di sebuah perusahaan. Setelah mendapatkan pengalaman, ia mendirikan perusahaan sendiri bersama beberapa orang kawannya. Usahanya ini boleh dikatakan maju, berkat kegiatan pembangunan di Ibu Kota.
Kakak kami itu ialah saudara tertua dalam keluarga kami yang tinggal di sebuah desa bernama Jatiwarno di Wonogiri. Sekitar 30 kilometer dari Kota Solo. Daerah tempat tinggal kami itu dikenal kering. Dulu sering kali menjadi berita di koran karena kelaparan. Di zaman kolonial pernah terjadi busung lapar. Kini Wonogiri tidak lagi kering seperti dulu karena di situ dibangun waduk Gajah Mungkur. Sekarang sudah ada ladang-ladang ubi kayu dan jagung selain sawah padi. Waduk ini juga menjadi pusat pariwisata yang dikunjungi terutama oleh orang-orang Solo. Keluarga kami, keluarga Parto Sentono lebih populer dipanggil Kiai Parto adalah sebuah keluarga yang religius. Ayah kami itu adalah seorang petani yang juga berperan sebagai ulama lokal karena ia adalah santri lulusan Mamba'ul Ulum dan tinggal di pesantren Jamsaren. Jadi ia pernah berguru kepada KH Abu Amar, Ulama Solo yang masyhur itu. Itulah sebabnya Kiai Parto mengirim kami, anak-anaknya, ke pesantren sebagai lembaga pendidikan.
Mas Parman sebagai anak tertua dikirim ke Gontor Ponorogo yang jaraknya tidak jauh dari desa kami. Kakak saya yang kedua Muhammad Ikhsan dipondokkan ke Pesantren Pabelan di bawah pimpinan Kiai Haji Hamam Ja'far. Saya sendiri sebagai anak ketiga cukup bersekolah di Madrasah Al-Islam, Honggowongso, Solo. Jadi saya punya dua orang adik. Yang pertama, dikirim ke Tebu Ireng, sedangkan adik saya yang paling bontot disuruh belajar ke madrasah Mu'alimat Muhammadiyah, Yogyakarta.
Walaupun semuanya berlatar belakang pendidikan pesantren, kami semua mempunyai profesi yang berbeda-beda, misalnya Mas Parman menjadi seorang arsitek, sedangkan saya sendiri menjadi petani jagung dan ubi kayu meneruskan pekerjaan bapak. Karena itulah, saya adalah anak yang paling dekat dengan keluarga dan menyelenggarakan pertemuan halalbihalal setiap tahun dengan keluarga.
Bapak merasa sangat bangga anaknya bisa masuk ke pondok modern Gontor. Mas Parman sendiri juga merasa mantap berguru dengan Kiai Zarkasi dan Kiai Sahal. Di masa sekolah dasar, kami semua dididik langsung oleh bapak kami. Mas Parman ternyata berhasil menjadi seorang santri yang cerdas. Bapak sangat berharap kelak Mas Parman menjadi seorang ulama modern. Bapak memang tidak mengikuti perkembangan anaknya itu sehingga ia merasa terkejut ketika pada suatu hari ia berkunjung ke Gontor, anaknya itu ternyata sudah tidak lagi bersekolah di situ. Namun sebentar kemudian, ia mendengar di mana anaknya berada. Ternyata Mas Parman yang pandai matematika itu ikut ujian SMP negeri dan lulus dengan nilai yang sangat baik. Ia kemudian melamar untuk bersekolah di Solo dan diterima di SMA 2 atau SMA B yang terletak di Banjar Sari. Sekolahnya itu berdekatan dengan SMA 1 jurusan sastra budaya. Sehingga ia banyak bergaul dengan pelajar-pelajar sastra. Walaupun belajar ilmu eksakta, Mas Parman ternyata punya bakat seni. Ia bisa melukis dan membuat puisi. Ia ikut di klub sastra remaja yaitu sastra remaja Harian Nasional di Yogya. Bapak tidak bertanya banyak kepada anak sulungnya itu. Walaupun ia merasa sangat kecewa dan agak marah karena Mas Parman telah mengambil keputusan besar tanpa berkonsultasi dengan Bapak dulu. Saya mewakili keluarga menanyakan perihal keputusannya itu kepada Mas Parman. "Mas, kenapa tidak minta izin bapak dulu ketika Mas keluar dari Gontor?," tanyaku pada suatu hari.
"Kalau aku bilang dulu pada bapak, pasti tidak dikasih izin," jawabnya.
"Kenapa pula Mas berani mengambil keputusan besar itu?" tanyaku lagi. "Aku ternyata tidak betah tinggal di pondok. Aku merasa pesantren ini adalah sebuah masyarakat buatan. Kami hidup menyendiri, dilarang bergaul dengan penduduk desa. Kami di pondok menganggap diri sebagai keluarga ndoro," jawabnya lagi.
"Itu kan karena kepentingan para santri sendiri supaya tidak terkontaminasi oleh pengaruh luar," jelas saya.
"Tapi hidup kan menjadi artifisial, santri hanya diajar sesuatu yang baik tapi tidak mengetahui dunia nyata yang tidak terlalu bersih. Malah banyak kotornya."
"Kalau hanya itu alasannya, mengapa Mas tetap mengambil keputusan?" tanya saya.
"Terus terang saja, aku sendiri jenuh dan bosan hidup di pondok. Aku memahami jika sebagian santri melakukan homo bahkan mencuri-curi bergaul dengan perempuan di luar pondok."
"Nah, itulah akibatnya kalau para santri tidak disiplin."
"Pokoknya aku bosan, yang lebih mendasar lagi aku tidak bisa menerima pelajaran-pelajaran agama. Kupikir pendidikan semacam itu tidak berguna, karena tidak membekali santri untuk bisa hidup dalam realitas yang sering keras itu di luar dunia pesantren. Jadi apa gunanya aku bersusah payah mencapai kelulusan. Itulah maka aku mengambil keputusan untuk pindah sekolah."
"Mas Ikhsan ternyata senang nyantri di Pabelan," ujar saya.
"O... Pabelan itu beda dengan Gontor, Kiainya juga alumni Gontor, tapi ia bisa berbeda dengan Gontor. Santri Pabelan bebas bergaul bahkan diharuskan. Kiai Hamam bisa menerima saran dari LP3ES untuk menyelenggarakan program lingkungan hidup. Pesantren bahkan menyediakan air bersih yang diolah dari kali Pabelan untuk penduduk desa. Kiai Hamam juga membuat pemandian umum desa. Sehingga santri-santrinya bisa bergaul dengan penduduk desa setiap pagi sore sambil mandi bersama."
Mas Parman kemudian melanjutkan perubahan di dalam hidupnya. "Har, aku ingin memberitahukan padamu, perubahan pola hidupku di Solo. Aku sekarang sudah tidak menjalankan salat, juga puasa Ramadan," katanya jujur.
"Mas, apakah ini tidak terlalu jauh? Ibu bapak pasti akan marah besar sama Mas," jawab saya.
"Ya jangan dilaporkan ke ibu bapak, tapi ceritakan saja apa adanya kepada Mas Ikhsan, barangkali ia bisa menerima dengan kepala dingin." Saya kemudian berpisah dengan Mas Parman dan melaksanakan wasiatnya. Tidak henti-hentinya saya berpikir dan merenung, sehingga memberatkan pikiran saya. Sebagai adik kandung, saya menyayangkan keputusan dan langkah radikal Mas Parman. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa sehingga hanya bisa menerima dengan sedih yang menjadi unek-unek terus-menerus. Sebab, saya pun juga ingin jawaban terhadap masalah-masalah yang ditimbulkan keputusan kakak saya itu. Saya khawatir sikapnya itu akan memengaruhi kakak dan adikku yang lainnya sehingga unek-unek itu saya sampaikan kepada Mas Ikhsan. Ia juga tampak terkejut tapi hanya terdiam saja tanpa reaksi. Karena itu aku minta kepada Mas Ikhsan untuk bertemu sendiri dengan Mas Parman.
Akhirnya, pada suatu hari, Mas Ikhsan menyempatkan diri untuk bertemu langsung dengan Mas Parman di Solo. Ia tinggal di daerah Manahan. Berikut ini adalah laporan Mas Ikhsan kepadaku dari hasil pertemuannya dengan Mas Parman. "Aku diajak Mas Parman pada suatu malam di suatu warung hik yang masyhur dengan jualan wedang ronde dan makanan tradisional Surakarta. Mas Parman memang romantis. Dia tidak ragu mengajakku menikmati suasana Solo di waktu malam yang dirasakan rakyat jelata. Terkesan olehku bahwa ia memang merakyat hidupnya. Karena setiap kali kami berbincang-bincang, selalu saja ada orang yang menyapa. Ada juga para pengemis dan gelandangan. Di warung hik itulah aku mencoba secara tenang menanyakan banyak hal kepada Mas Parman.
"Mas, aku sudah mendengar semua cerita mengenai dirimu dari adik kita, Haryono, terus terang saja aku terkejut. Timbul seribu satu pertanyaan dalam pikiranku, aku masih seorang santri yang baik dan terus bercita-cita menjadi ulama pemikir modern. Sebagai adik, aku tidak bisa memahami sikapmu. Bahkan aku tidak percaya dengan cerita Haryono, aku juga sudah tanya kepada Haryono bagaimana pandangannya. Tapi ia tidak banyak memberi penjelasan sehingga aku harus langsung bertemu denganmu. Mohon jangan tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentarku. Aku bahkan ingin belajar kepada Mas, yang memiliki sebuah pengalaman dramatis."
"O... boleh saja, jadi aku sekarang sudah tidak menjalankan kewajibanku sebagai seorang muslim."
"Kalau begitu, Mas telah murtad?" tanyaku.
"Ya, sebelum hukuman murtad dijatuhkan kepadaku, aku lebih baik keluar saja dulu dari Islam. Sekarang siapa pun juga tidak berhak menghakimiku."
"O... begitu, aku pun tidak akan menghakimimu. Cuma aku ingin bertanya apakah Mas telah meninggalkan seluruh akidah Islam?" tanyaku ingin tahu.
"Ya, aku sekarang seorang atheis, aku sudah tidak percaya kepada Tuhan."
"Lalu status Mas sekarang sebagai apa?" tanyaku.
"Aku sudah menjadi humanis. Aku bercita-cita ingin menjadi pemikir bebas."
"Untuk menjadi orang seperti itu kan tidak perlu meninggalkan akidah. Islam memberi kebebasan."
"Ya aku tahu, aku hanya ingin mengatakan bahwa selama di Gontor aku tidak pernah memperoleh penjelasan yang memuaskan mengenai Tuhan. Dan mengapa orang harus percaya kepada Tuhan. Aku ingin bebas dari belenggu akal dan aku harus bisa mendasarkan perilakuku berdasarkan rasionalitas. Tidak dibelenggu iman dan syariat. Sekarang ini aku merasakan diriku menjadi orang bebas, tanpa belenggu. Ketika menjadi orang Islam aku merasa terjatuh ke dalam belenggu. Sekarang ini aku merasa mengalami pencerahan."
"Mas kan tahu bahwa Islam itu mengajarkan perbuatan baik berdasarkan iman. Jadi manusia memerlukan Tuhan untuk bisa berbuat baik."
"Inilah yang saya tidak setujui dalam Islam. Seperti kamu tahu sendiri, perbuatan baik itu tidak diakui Tuhan jika tidak didasarkan kepada iman. Mengapa harus begitu. Buddha Gautama mengajarkan perbuatan-perbuatan baik tanpa mensyaratkan iman kepada-Nya. Demikian pula Konghucu. Aku suka dengan dua agama yang kita sebut sebagai agama bumi itu. Aku ingin menjadi orang baik tanpa iman. Kalau mendengar keteranganmu itu terkesan olehku bahwa Tuhan itu adalah ciptaan manusia sendiri, bukannya sebaliknya."
"Astaghfirullahal'adzim."
"Dalam kenyataannya, agama itu hanyalah candu yang membius dan membuat lupa terhadap kesengsaraan dan penindasan yang menimpa mereka."
"Berlindung aku dari bisikan semacam itu."
"Sorry ya, jangan anggap aku sesat. Semuanya itu sudah kupikirkan dan kurenungkan dalam-dalam. Pokoknya aku ingin bebas menjadi humanis."
"Tapi aku yakin bahwa Islam akan membawaku ke sana, tapi sampean punya pendapat yang lain dan aku ingin belajar darimu sebagai seorang kakak tertua."
"Kamu tidak perlu jawaban verbal dariku. Lihat saja perbuatanku. Bukankah agamamu mengajarkan bahwa Tuhan itu akan bisa ditemui dengan perbuatan baik di dunia ini."
"Kalau gitu, Mas masih percaya kepada Tuhan."
"Tidak! Aku tidak bisa percaya pada adanya Tuhan. Aku hanya ingin berbuat baik kepada sesama manusia berdasarkan alasan-alasan yang rasional saja."
"Wah, menurutku manusia yang percaya kepada Tuhan itu tentu akan terdorong untuk berbuat baik, karena itu apa salahnya kita percaya akan adanya Tuhan."
"Ya terserah. Cuma saya tidak mau percaya kepada Tuhan yang diciptakan manusia. Tuhan begini, sama saja dengan dewa-dewa Hindu maupun Yunani."
Begitulah Mas Ikhsan menceritakan kembali dialognya. "Lalu bagaimana tanggapan dan sikapmu?"
"Lakumdinukum waliyadin, biar dia percaya apa yang ia percayai dan kita percaya apa yang kita percayai."
"Lalu bagaimana pandanganmu mengenai kakak kita itu?"
"Aku tidak menganggap dia orang sesat. Ia hanya memilih suatu jalan hidup. Dalam hatiku, aku percaya bahwa Mas Suparman itu sebetulnya percaya kepada Tuhan. Cuma dia tidak mau merumuskan apa Tuhan itu. Bukankah agama kita mengajarkan bahwa apa pun yang kita pikirkan mengenai Tuhan, itu bukan Tuhan. Jadi Tuhan itu diimani saja, tidak perlu dirasionalkan. Walaupun teori-teori mengenai Tuhan boleh saja dikemukakan. Biar dia tidak percaya kepada Tuhan, asalkan ia berbuat baik dan melaksanakan ajaran Islam menurut ukuran-ukuran kita. Tidak perlu kita mensyaratkan iman kepadanya."
Mas Suparman yang kini sudah menjelang masa pensiun itu sekitar enam puluh lima tahunan nampaknya, paling tidak menurut kesan saya, telah mencapai apa yang ia cita-citakan berdasarkan kebebasan yang ia yakini. Saya berpendapat bahwa pada dasarnya, kakak kami itu masih seorang muslim yang baik. Hidupnya sesuai dengan sepuluh wasiat Tuhan yang didendangkan Iin dan Jaka Bimbo.
Pertama aku masih percaya bahwa ia masih punya iman dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Seperti kata Jalaludin Rumi dan Al Halaj, ia pada akhirnya akan memperoleh pengertian Tuhan yang sebetulnya melekat pada dirinya sendiri jika ia masih tetap bisa menjalankan hidup yang benar berarti Allah masih membimbingnya. Cuma, dia tidak tahu dan tidak mengaku. Malah saya berpendapat bahwa sikap Mas Parman itulah yang mencerminkan Tauhid yang semurni-murninya. Wallahu'alam. Kedua, ia berbuat baik kepada ibu bapaknya, ia tidak pernah mau menyakiti kedua orang tuanya. Harus kami akui bahwa di antara kami, Mas Parmanlah yang paling banyak membantu orang tua kami. Ketiga, ia bisa menjaga harta anak-anak yatim, yaitu adik-adiknya, ia tidak mau mengambil bagian warisannya. Ia serahkan semuanya kepada kita. Mas Parman juga membuat yayasan yang menampung anak-anak yatim. Tutur katanya tidak pernah menyakiti orang lain, ia selalu menjaga diri dari perbuatan-perbuatan tercela.***
=================================================================
dari admin: silakan anda menyimpulkan sendiri kisah cerpen di atas.
