Wednesday, 8 October 2008

Orasi band straight edge di atas panggung: apakah suatu intervensi?


Berawal dr obrolan dengan teman yang “curhat” bahwa dia sedikit risih dengan tingkah sebuah band sXe yang saat manggung menyuruh penontonnya mematikan rokok. Temenku tadi berkata, bahwa apa yang dilakukan band tersebut adalah suatu intervensi bagi penonton. Benarkah? Kita tidak bisa menghakimi hanya berdasar kisah dari temenku tersebut, karena tentu akan ada banyak sekali sudut pandang dalam memandang masalah tersebut.

Oke, sekarang mari kita coba kesampingkan dulu kasus di atas. Dan kita coba melihat lebih umum. Tidak dipungkiri bahwa hampir semua band yang mengklaim sebagai band straight edge melakukan orasi tentang sXe di atas panggung. Sekarang, apakah itu bisa disebut intervensi (kalau tidak boleh disebut intimidasi)?

Sebelum kita putuskan apakah itu termasuk sebuah intervensi atau bukan, coba lihat band lain. Coba lihat band anarkis yang di panggung selalu mendengung-dengungkan semangat anarkismenya. Atau band feminis yang selalu berkoar tentang jender. Atau mungkin band lain yang hobi kampanye lingkungan, atheis, anti premanisme dan lain-lain. Apakah itu juga intervensi?

Jika kita memandang lebih cerdas dan dewasa mengenai orasi yang selalu dikoarkan band di atas panggung, kita tidak akan menganggapnya sebagai intervensi, apalagi intimidasi. Termasuk orasi yang dilakukan oleh band straight edge. Karena apa yang mereka lakukan adalah suatu bentuk kebebasan berekspresi dalam menyampaikan pesan semata. Sama halnya dengan band anarkis, feminis, environmentalis dan lainnya yang menyampaikan pesan melalui performa-nya di atas panggung. Justru dengan orasi tersebut, kita jadi tau pesan yang disampaikan band melalui aksi panggung dan lagu-lagunya. Karena tanpa orasi seperti itu, tentu cukup sulit menangkap apa yang menjadi isi dari lagu yang dia bawakan mengingat lagu dibawakan kebanyakan dengan bahasa inggris dan suara yang tidak semua bisa mendengarnya, belum lagi kalau sound-nya jelek. Kecuali kita sudah membaca liriknya sebelumnya.

Tentu kita bukanlah kerbau yang dicocok hidungnya lantas nurut-nurut aja apa yang disampaikan oleh band tersebut. Pada akhirnya akan kembali pada diri kita, jika setuju dengan pesan mereka ya ikuti, jika tidak ya tidak usah didengarkan. Simple kan?

Kembali ke kasus semula, apakah orasi yang dilakukan band sXe tersebut adalah suatu intervensi? Selama masih dalam bentuk orasi yang wajar, saya rasa itu bukanlah intervensi. Walaupun kata “wajar” ini based on condition...Tapi tentu kita sudah cukup cerdas dan dewasa untuk mengetahui yang wajar dan tidak. Dan yang terpenting adalah jangan hanya karena tidak setuju dengan pesan yang disampaikan lantas menganggapnya sebagai sebuah bentuk intervensi atau intimidasi. Be smart...

Baca semua......

Saturday, 13 September 2008

Punk dan Hardcore Hari Ini (Part 2)

Sebelumnya aku mau menegaskan bahwa tulisan ini sangat murni subyektif dari sudut pandangku sendiri. Jadi, seperti yang kita tahu bahwa dari sudut pandang subyektifitas, dalam beropini tidak ada benar atau salah, karena subyektifitas adalah segalanya. Walaupun tetap ada konsekuensi mutlak dibaliknya.

Oke, lanjut bleeeh...
Punk/hardcore hari ini tak ubahnya sekumpulan orang penggemar musik non-mainstream(?) atau boleh dibilang sedikit cadas, tanpa ada pengaplikasian dalam pemikiran dan kehidupan sehari-harinya. Pendapat seperti itu sering terlontar dibenak beberapa orang bahkan mungkin kamu.

Menurutku ada benarnya juga pendapat tersebut. Walau mungkin pedapat tersebut hanya berlaku pada sebagian orang saja (atau sebagian besar..hehe). Aku pribadi bukanlah siapa-siapa dan bukanlah apa-apa di dalam scene. Bukan pula seorang ’aktivis’ tongkrongan dalam scene punk/hardcore. Mungkin dulu memang aku ’hang out’ bersama teman-teman di komunitas Tapi aku menolak untuk disebut sebagai ’aktivis’ tongkrongan karena memang intensitasku sangat minim. Mungkin karena disebabkan masalah waktu saja. Tapi dengan begitu, justru aku bisa memposisikan diriku sebagai orang yang melihat kondisi scene dari sudut pandang yang lain.

Sangat disayangkan memang, jika kita lebih berkutat dengan masalah musik dan fashion semata. Tanpa ada suatu ’rebel’ dalam pengaplikasian di kehidupan sehari-hari. Mungkin sudah terlalu klise kita membicarakan masalah rebellion pada saat ini. Tapi menurutku, justru itulah inti dari sub-kultur ini. Tidak terbatas pada masalah musik dan lirik semata, apalagi fashion.

Oke lah... Memang dalam bermusik kita bisa dibilang sangat rebel. Sangat berbeda dengan selera orang kebanyakan. Tapi apakah hidup ini hanya sebatas musik dan lirik semata? Kita sangat hobi meneriakkan semangat brotherhood, anti ini, anti itu, fuck ini, fuck itu, tapi apakah rebel kita hanya sebatas itu? Hanya terbatas pada apa yang kita nyanyikan? Bahkan kalau boleh berpendapat, kita bisa sangat rebel tanpa lirik-lirik garang. Kita bisa sangat rebel walau kita menyanyikan lagu cengeng. Benarkah? Ya! Karena ada suatu media yang bisa kita gunakan sebagai media rebellion.Yaitu hidup kita sehari-hari.

Apakah rebel yang dari tadi aku maksud itu lantas anti ini, anti itu, lawan ini, lawan itu?? Tidak bro! Mungkin sedikit terinspirasi pendapat beberapa orang yang cukup cerdas membahas masalah rebel 4 life. Bahwa rebel itu tidak lantas asal-asalan lawan ini, lawan itu, anti ini, anti itu. Tidak asal ikut-ikutan. Karena suatu rebel yang akan kita lakukan itu hanya kita yang tahu pasti. Mungkin bagi orang lain hal tersebut bukanlah suatu rebellion, tapi bagi kita itu sangat rebel. Atau sebaliknya, mungkin bagi kita hal tersebut tidak rebel, sedangkan bagi orang lain hal tersebut adalah bentuk rebel dia.

Jadi rebel yang kumaksud bukanlah rebel tolol yang asal ingin tampil beda semata. Tapi suatu rebel yang kita pribadi mempunyai dan memahami alasan untuk melakukannya. Subyektifitas sangat berperan di dalamnya. Ya... Aku ambil contoh, mungkin kamu merasa politik praktis adalah media yang cocok bagimu untuk melawan kondisi politik yang itu-itu saja, ya silahkan rebel dengan media politik. Atau misal kamu merasa bahwa rokok adalah suatu hal yang sangat memuakkan, ya silahkan melakukan suatu rebel dalam kehidupanmu untuk tidak menggunakan rokok seperti yang lain bahkan mungkin bergabung dengan organisasi anti-rokok... Atau misal lagi kamu merasa bahwa agama adalah kebohongan publik semata, ya silakan menjadi atheis atau agnostic sebagai bentuk rebel-mu. Atau sebaliknya, mungkin kamu merasa bahwa atheis hanyalah bagi orang-orang tolol, ya silakan ber-rebel dengan menjadi umat beragama yang baik. Atau mungkin kamu merasa animal-exploitation semakin parah, ya silakan rebel dengan menjadi aktivis animal-rights. Bahkan kamu bisa menjadi sangat rebel dalam hal positif ketika kebanyakan orang dengan enaknya membuang sampah sembarangan, tapi kamu melawan itu semua dengan tidak menjadi seperti mereka, dengan mendisiplinkan dirimu untuk membuang sampah pada tempatnya.... Jadi sekali lagi, mungkin kita sendiri yang paham mengenai rebel yang kita lakukan. Tapi tentunya dalam batas sebuah rebel yang cerdas, bertanggungjawab dan tidak merugikan orang lain.

Sudah saatnya, kita tidak hanya berkutat masalah musik, lirik dan fashion. Musik dan lirik bahkan fashion, itu hanya salah satu media kita dalam mengekspresikan rebel kita. Menjadi seorang punk/hardcore itu saja sudah menjadi suatu rebel yang positif. Positif di sini tidak dalam konteks straight edge atau positive youth, tapi dalam konteks yang lebih luas. Sayangnya, hal positif itu tidak akan berarti apa-apa jika hanya menjadi slogan yang kita teriakkan dan nyanyikan semata.

----------------------------------------------------------------------------------
Kamu merasa tulisan di atas terkesan menggurui, sok tahu, sok paham, sok rebel dan sok-sok lainnya? Terserah.... Yang jelas bukan itu maksudku menulis artikel di atas. Aku hanya ingin beropini saja :D

Baca semua......

Thursday, 28 August 2008

Tuhan Sembilan Senti


Oleh Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok, di pabrik pekerja merokok, di kantor pegawai merokok, di kabinet menteri merokok, di reses parlemen anggota DPR merokok, di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok, hansip-bintara-perwira nongkrong merokok, di perkebunan pemetik buah kopi merokok, di perahu nelayan penjaring ikan merokok, di pabrik petasan pemilik modalnya merokok, di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok, di ruang kepala sekolah ada guru merokok, di kampus mahasiswa merokok, di ruang kuliah dosen merokok, di rapat POMG orang tua murid merokok, di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok, di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok, di loket penjualan karcis orang merokok, di kereta api penuh sesak orang festival merokok, di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok, di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok, di warung Tegal pengunjung merokok, di restoran di toko buku orang merokok, di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan abab rokok, bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok, di apotik yang antri obat merokok, di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok, di ruang tunggu dokter pasien merokok, dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok, di pinggir lapangan voli orang merokok, menyandang raket badminton orang merokok, pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok, panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok, di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok, di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na'im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa. Mereka ulama ahli hisap. Haasaba, yuhaasibu, hisaaban. Bukan ahli hisab ilmu falak, tapi ahli hisap rokok. Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, ke mana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu. Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz. Kyai, ini ruangan ber-AC penuh. Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i. Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok. Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama. Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini. Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka. Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir. Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas, lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita, jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.



Baca semua......

Friday, 20 June 2008

DRUGS DEALERS MUST DIE!!!

Maaf kalau judulnya terkesan kasar. Tapi apa yang diperbuat drug dealer lebih kasar dan kejam bagi banyak orang. Tentunya yang dimaksud disini adalah drug dealer yang menjual obat-obat terlarang yang sangat rentan penyalahgunaannya. Kalau banyak orang biasa bilang bandar, BD atau sebutan lainnya.

Seperti sebuah deret ukur, jumlah pemakai narkoba di Indonesia kian hari kian meningkat. Korban terus berjatuhan. Menurut hasil penelitian dari Lembaga Pranata Universitas Indonesia dan Badan Narkotika Nasional (BNN) selama tahun 2003, pemakai obat terlarang sudah mencapai sekitar enam juta orang, atau hampir mencapai 3 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, 1,3 juta di antaranya berada di Jakarta, sementara kota-kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Medan, Surabaya, dan Bali, rata-rata di bawah satu juta orang.(http://www.suarapembaruan.com)

Banyak yang bilang hubungan penjual dan pembeli itu semacam hubungan ayam dan telor. Mana yang lebih dulu ada? Tentu banyak orang bingung. Mana yang lebih dulu ada, bandar atau pengguna? Tergantung. Tapi dalam kasus narkoba ini, peran penjual jauh lebih besar dalam membantu penyebaran barang-barang tersebut. Mengapa yang harus lebih diutamakan adalah membasmi penjualnya tapi bukan membasmi konsumennya? Jawabnya adalah karena hal itu lebih efektif. Ya! Umpamakan di dunia ini tidak ada penjual narkoba, tentu tidak akan ada yang mengkonsumsinya walaupun jutaan orang mencarinya. Tapi andaikata kondisinya di balik, seumpama di dunia ini tidak ada pengguna narkoba tapi terdapat satu saja penjual narkoba, jelas mau tidak mau penjual itu akan berupaya dengan segala cara agar mendapatkan konsumen sebanyak mungkin. Karena itu lah membasmi bandar narkoba lebih efektif dibanding membasmi satu persatu pengguna narkoba. Itu disebabkan lagi karena jumlah penjual narkoba pasti lebih sedikit dari penggunanya. Ibaratkan 1 penjual mempunyai pelanggan 10 orang, dengan membasmi penjual yang jumlahnya satu tersebut lebih mudah dibanding membasmi penggunanya yang sepuluh orang tersebut. Dengan melenyapkan 1 penjual cukup membuat 10 pelanggan kelimpungan untuk mendapatkan barang-barang tersebut. 

Itu lah mengapa judul artikel ini "DRUG DEALER MUST DIE!!!" bukan "DRUG USER MUST DIE!!!"
Sebagian besar pengguna narkoba mulai menggunakan obat-obat tersebut karena dijebak kawannya, dipengaruhi lingkungan, jiwa yang tidak stabil, masalah keluarga dan lain-lainnya yang pada akhirnya menyebabkan terjerat dalam jaring-jaring narkoba. Tapi, penjual narkoba jelas-jelas dengan sadar dan segala upaya mencoba memasarkan barang-barang tersebut hanya dengan satu alasan: UANG! Mereka tidak akan peduli akan kenyataan bahwa pelanggannya semakin mirip mayat hidup yang terkucil dari pergaulan karena dia seorang pengguna. 

Terkadang masalah narkoba ini bertentangan dengan konsep kebebasan dan hak asasi manusia. Sebagian orang menganggap menggunakan narkoba adalah suatu kebebasan. Selama tidak mengganggu orang lain ya tidak masalah. Tapi mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya perbuatan mereka menggunakan narkoba itu sudah merugikan baik dirinya sendiri maupun orang lain. Karyawan yang menggunakan narkoba tidak mampu bekerja maksimal, jelas itu akan merugikan tempat dimana ia bekerja. Ibu yang menggunakan narkoba terkadang membuatnya enggan mengurus rumah tangga, itu jelas merugikan keluarganya. Orang yang menggunakan narkoba terkadang terjerat utang untuk memuaskan keinginannya membeli narkoba dan itu sering membuatnya menjadi seorang pencuri, jelas itu akan merugikan orang disekitarnya. Itu hanya sebagian contoh kecil dari penggunaan narkoba. Jadi, sudah saatnya menghilangkan pendapat bahwa menggunakan narkoba adalah kebebasan pribadi yang tidak merugikan orang lain.

Tidak ada kata terlambat untuk memerangi penyalahgunaan obat-obatan terlarang. Lakukan langkah-langkah nyata yang walau terlihat sepele namun berarti, misal:
- Menyebarkan informasi tentang bahaya narkoba, baik hanya melalui obrolan di kantin kampus maupun melalui seminar.
- Jangan jauhi pengguna narkoba (tapi juga jangan terpengaruh untuk menjadi pengguna:p). Karena terkadang mereka sebenarnya ingin sembuh, tapi belum mampu. Diperparah kondisi lingkungan yang mengucilkannya, akan membuat mereka semakin terperosok. Akan lebih baik apabila kita bisa mengajaknya untuk berkegiatan positif atau bahkan membantu menyembuhkan ketergantungannya.
- Mulailah dengan teriakan : "DRUG DEALER MUST DIE!!!"



drugXfreeXyouth

Baca semua......

Saturday, 7 June 2008

FPI = Front Pembela Islam atau Front Perusak Islam???


Lagi-lagi FPI berulah. Minggu 1 Juni 2008 mereka membabi buta menyerang anggota AKKBB yang sedang merayakan kelahiran Pancasila. Hingga tulisan ini aku posting, banyak sekali versi cerita dibelakang kejadian tersebut. Ada yang berkata pihak AKKBB yang memulai memprovokasi dengan ejekan kepada FPI, ada yang berkata FPI yang memulai, ada pula yang berkata karena kesalahan tempat pengumpulan massa AKKBB. Entah mana yang benar. Yang jelas, kejadian ini sudah kesekian kalinya FPI melakukan tindakan main hakim sendiri. Seolah mereka "polisi swasta" sekaligus "hakim" yang berhak setiap saat melakukan pemvonis-an secara sepihak.

Di luar masalah ahmadiyah yang tidak jelas ini, FPI sudah melakukan sekian aksi "superior"nya mulai dari pengrusakan tempat hiburan hingga penyerangan terhadap demonstran. Dan sayangnya, sebagian besar kasus-kasus itu tidak ditindaklanjuti secara tegas oleh pemerintah. Apakah memang benar ada kongkalikong antara FPI dan pemerintah? Entah lah...

Walaupun aku bukan seorang muslim yang pandai masalah agama, tapi aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Islam tidak pernah menghalalkan kekerasan semacam itu. Apalagi perbedaan-perbedaan yang ada itu masih bisa didialogkan. Sayangnya, sang malaikat penghacur alias FPI, dengan garangnya membawa pentungan dan berbagai alat lalu membabi buta bertindak brutal sembari meneriakkan Allahu Akbar....Seolah-olah perbuatan mereka tersebut sudah direstui oleh Allah.

Dengan membawa nama FRONT PEMBELA ISLAM, mereka merasa sudah melindungi Islam dari berbagai serangan dan gangguan. Hmmm...Tapi setelah melihat aksi mereka selama ini, kok aku jadi bingung. Sebenarnya siapa yang sesungguhnya merusak Islam? Bukankah tindakan mereka justru membuat Islam semakin dicap sebagai agama kekerasan. Padahal sebenarnya TIDAK!

Oleh karena itu, patut dipertanyakan lagi kepanjangan dari FPI. Apakah Front Pembela Islam atau Front Perusak Islam???
Perlu dipertanyakan pula apakah FPI masih perlu dipertahankan keberadaannya???

Baca semua......

Tuesday, 3 June 2008

PRINSIP + PARANG = FASIS

Ketika pertama mendengar kata fasisme, yang terbayang di pikiran kita adalah Mussolini dan Hitler. Yup! Tidak dapat dipungkiri bahwa popularitas fasisme dipupuk oleh keberadaan mereka.

Fasisme merupakan sebuah paham politik yang mengangungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi. Dalam paham ini, nasionalisme yang sangat fanatik dan juga otoriter sangat kentara. Kata fasisme diambil dari bahasa Italia, fascio, sendirinya dari bahasa Latin, fascis, yang berarti seikat tangkai-tangkai kayu. Ikatan kayu ini lalu tengahnya ada kapaknya dan pada zaman Kekaisaran Romawi dibawa di depan pejabat tinggi. Fascis ini merupakan simbol daripada kekuasaan pejabat pemerintah. Pada abad ke-20, fasisme muncul di Italia dalam bentuk Benito Mussolini. Sementara itu di Jerman, juga muncul sebuah paham yang masih bisa dihubungkan dengan fasisme, yaitu Nazisme pimpinan Adolf Hitler. Nazisme berbeda dengan fasisme Italia karena yang ditekankan tidak hanya nasionalisme saja, tetapi bahkan rasialisme dan rasisme yang sangat sangat kuat. Saking kuatnya nasionalisme sampai mereka membantai bangsa-bangsa lain yang dianggap lebih rendah(http://id.wikipedia.org).

Tapi benarkah fasisme hanya berkutat pada seputar kecintaan berlebihan terhadap negara atau pemerintahan? Tidakkah kita sadar bahwa banyak sekali fasisme dalam bentuk lain di sekitar kita yang bersembunyi dibalik topeng yang beraneka ragam. Termasuk di dalam suatu golongan.

Golongan??! Yup!
Bukankah bisa kita lihat di sekitar kita betapa banyak golongan yang dengan prinsipnya masing-masing saling memaksakan kehendaknya dengan cara kekerasan terhadap golongan lain yang mungkin tidak sependapat dengan prinsipnya? Mereka merasa paling benar. Entah golongan itu berupa partai politik, kaum penganut ideologi tertentu atau bahkan AGAMA! Walau tidak semuanya seperti itu.

Tanpa sadar, kecintaan dan kepercayaan mereka terhadap prinsip yang mereka pegang telah menjadi sebuah janin yang akhirnya akan melahirkan bibit-bibit fasis 
dalam bentuk lain bahkan rasis. Tanpa sadar ketika mereka berusaha memaksakan prinsipnya dengan kekerasan kepada orang lain itu saja sudah cukup untuk melahirkan sebuah sikap fasis. Sebuah sikap yang tidak menghargai perbedaan.

Sudah berapa banyak orang yang menjadi korban fasisme dalam jenis tersebut? Tidak terhitung jumlahnya, sobat! Coba hitung saja korban keganasan kaum puritan hingga korban Zionisme keparat. Korban dari kepicikan Noe-Nazi hingga kebodohan supporter klub sepakbola fanatik sempit. Korban dari keparanoid-an George Bush hingga korban kaum straight edge gadungan yang mengaku sebagai ”hardline” tanpa dia paham apa itu definisi ”hardline” sesungguhnya.. Dan masih banyak lagi...

Sudah saatnya kita menghargai perbedaan. Hidup berdampingan tanpa memperuncing perbedaan. Dan melihat betapa terselubung dan luasnya makna fasisme, sudah saatnya kita berkaca dan bertanya kepada diri kita sendiri apakah kita termasuk fasis?

Baca semua......

Thursday, 29 May 2008

Tutorial Mudah Merakit Komputer

(tulisan pertamaku yang berhubungan dengan computer:D )

Awalnya ga kepikiran bakal nulis artikel yang berhubungan dengan komputer. Tapi karena didasari rasa iri berlebihan setelah melihat blog temen-temen kuliahku yang dipenuhi artikel tentang komputer, maka dengan sangat-sangat terpaksa menulislah aku tentang sesuatu yang berbau komputer. (emang komputer baunya gmn?)

Setelah bingung mikir-mikir topik apa yang pantas ditulis oleh mahasiswa Teknik Informatika semester 8 yang masih ngulang kuliah bareng anak 2007 dan Tugas Akhirnya ga ada perkembangan, akhirnya kuputuskan untuk menulis sebuah tutorial dahsyat yang pastinya akan sangat membantu para pembaca.... dan judulnya adalaaaah...(drum roll).....taraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......Tutorial Merakit Komputer.


Yup. Mengapa aku milih topik ini? Karena ini adalah ilmu dasar untuk temen-temen yang ingin belajar komputer. Oke deh, kita mulai. Tapi tolong diperhatikan baik-baik. Soalnya emang rada sulit. Tapi aku coba menggunakan bahasa yang mudah dimengerti.

1.Pertama, ketahui spek yang akan kamu rakit. Dan pahami mengenai kesesuaian antar spek tersebut.
2.Kedua, bawa hardware-hardware kamu itu kepada toko-toko komputer yang menyediakan jasa perakitan.
3.Ketiga, bilang sama mas/mbaknya ”mas/mbak, mau ngrakit komputer. Ini hardwarenya...Kira-kira habis brapa? Oke..terima kasih..mas/mbaknya baek deh..”.
4.Nah, selama mas/mbaknya ngrakit, kamu bisa istirahat setelah sebegitu capeknya melakukan langkah 1-3...
5.Setelah mbak/mas-nya selesai ngrakit, lalu bawa pulang tuh komputer. Jangan lupa dibayar dulu...
6.Colokin kabelnya ke colokan listrik. Terus tekan tombol power.
7.Waaaaaaaaaaaaaaaa.......komputernya idup....
8.Nah kalau sudah begitu, berarti kamu sudah bisa merakit komputer sendiri....

Fiuuhhh.....akhirnya selesai juga menulis tutorial di atas. Semoga temen-temen ga kebingungan mengikuti langkah-langkah di atas. Selamat mencoba...

*tutorial di atas murni tulisanku sendiri lho... :p

Baca semua......